Kapan satu permintaan cukup untuk jadi fitur
Satu permintaan fitur bisa langsung saya buat, sementara fitur yang diminta banyak orang bisa lama saya tunda. Yang saya ukur adalah standarnya, dan siapa yang akan menanggung bebannya.
Web saya pelajari sendiri: dari mengutak-atik template Blogspot, masuk ke WordPress, sampai plugin yang akhirnya menjadi produk. Sampai sekarang saya masih menerima pembuatan website dari nol, dan dengan bantuan AI, saya membangun di stack apa pun yang dibutuhkan masalahnya.

| nama | Dwindi Ramadhana |
|---|---|
| belajar web | otodidak, Blogspot → WordPress |
| produk sendiri | sejak 2021 |
| stack | WordPress → lintas stack, dengan AI |
| terima proyek | ● ya, dari nol |
Satu permintaan fitur bisa langsung saya buat, sementara fitur yang diminta banyak orang bisa lama saya tunda. Yang saya ukur adalah standarnya, dan siapa yang akan menanggung bebannya.
Beberapa masalah muncul berulang kali, di website saya maupun milik orang lain. Sebagian solusinya menjadi produk, dan masing-masing punya situsnya sendiri. Alat yang lebih kecil ada di katalog.
Website yang responsif dan dibangun sesuai sistem yang dibutuhkan bisnis Anda, dari nol.
Memperbarui tampilan dan alur website yang sudah ada tanpa harus memulai dari awal.
Fitur dan fungsi khusus WordPress yang belum tersedia di plugin mana pun.
// layanan bisa dipesan terpisah, misalnya hanya custom plugin untuk website yang sudah berjalan.
Saya mulai membangun sendiri karena punya ide, tapi tidak punya dana atau lingkaran untuk menyewa programmer. Dari situ lahir plugin dan produk yang ada di sini. Tulisan di sini adalah pelajarannya, saya rapikan supaya bisa dipakai orang lain.
Ceritakan website, plugin, atau alur yang ingin Anda perbaiki. Kita mulai dari diskusi.