Tahun 2020, seorang klien mengirim pesan pendek:

“Saya minta akses domain dan server.”

Permintaannya wajar. Ia punya tim internal sekarang, dan ia ingin websitenya dikelola sendiri tanpa harus terus membayar pihak luar. Pihak luar itu saya.

Masalahnya, saya tidak bisa begitu saja memberikannya.

Paket sejuta setahun

Akhir 2018, saya menawarkan website murah untuk UMKM. Satu juta rupiah per tahun, semua beres. Domain, server, desain, semuanya saya urus. Beberapa klien mengambil paket itu.

Asumsi saya waktu itu sederhana. Klien UMKM tidak teknis. Mereka tidak butuh penjelasan soal domain atau hosting. Yang mereka mau hanya satu kalimat: “Saya sudah punya website sesuai tema dan branding bisnis saya.” Selesai.

Jadi domain dan server saya beli dengan akun saya sendiri. Semua klien paket itu ada di sana, bersama-sama.

Tahun 2019, perpanjangan berjalan lancar. Tidak ada yang bertanya apa-apa, dan saya tidak merasa ada yang salah.

Dua pilihan, dua-duanya buntu

Ketika permintaan akses itu datang, saya melihat dua pilihan.

Memberikan akunnya. Tidak mungkin. Di akun itu ada domain dan website klien lain juga. Memberikan akun berarti membuka aset semua orang.

Memindahkan domain dan memigrasi websitenya ke server baru. Bisa, tetapi ada biayanya. Domain harus ditransfer, website harus dipindah, dan semua itu pekerjaan yang tidak masuk hitungan paket sejuta setahun.

Di tengah dua pilihan itu, posisi saya berubah. Dari penyedia jasa menjadi orang yang dituduh menahan aset klien. Sesuatu yang tidak pernah terpikir sejak awal, karena niat saya justru memudahkan.

Klien benar

Butuh waktu bagi saya untuk mengakuinya, tetapi klien benar. Klien berhak atas semua yang ia bayar, berapa pun itu, semurah apa pun itu.

Harga murah tidak mengubah siapa pemiliknya. Domain itu nama usahanya. Website itu wajah bisnisnya. Ia membayarnya lewat saya dengan harga sejuta setahun, dan itu tidak membuat asetnya boleh bercampur dengan aset orang lain.

Permintaannya wajar. Cara saya menyusun semuanya sejak awal yang membuatnya terasa rumit untuk dipenuhi.

Satu klien, satu server

Setelah itu, isi server bersama saya pecah. Satu klien, satu server.

Biayanya saya subsidi silang dari sejuta setahun itu. Margin jadi super tipis. Tetapi rasanya jauh lebih tenang.

Servernya masih di akun saya, karena biaya di akun baru berbeda. Bedanya sekarang, asetnya sudah terpisah. Klien yang minta masuk panel bisa saya beri akses tanpa khawatir aset klien lain ikut terlihat atau terusik. Klien yang minta asetnya dilepas bisa menerima servernya lewat transfer kepemilikan, sama seperti domain.

Saya tidak lagi perlu memilih antara menahan dan membongkar. Pintunya sudah ada, tinggal dibuka.

Sisi lain: klien yang terkunci

Belakangan saya sering bertemu kejadian dari arah sebaliknya.

Klien datang minta bantuan. Optimasi, perbaikan bug, fitur khusus, atau migrasi. Pekerjaannya jelas dan saya bisa mengerjakannya. Tetapi tidak bisa dimulai, karena akses domain dan servernya masih dipegang developer lama yang sudah tidak bekerja sama dengan klien.

Setiap kali melihatnya, saya ingat posisi saya tahun 2020. Developer lama itu mungkin juga tidak berniat buruk. Mungkin ia juga hanya ingin memudahkan, seperti saya dulu. Tetapi bagi klien hasilnya sama: bisnisnya tertahan oleh urusan yang seharusnya tidak pernah ada.

Dari sini prinsip saya terbentuk

Kalau dirangkum, perjalanannya tiga tahap:

  1. Server bersama, semua di akun saya. Praktis, sampai ada klien yang meminta haknya.
  2. Satu klien satu server, masih di akun saya. Aset terpisah, bisa diserahkan kapan saja.
  3. Semua atas nama klien sejak hari pertama. Tidak ada yang perlu diserahkan, karena dari awal memang miliknya.

Tahap ketiga itulah cara saya bekerja sekarang untuk proyek baru.

Kalau Anda pernah membeli paket serupa

Paket website murah yang “semua beres” tidak salah. Banyak yang memang membutuhkannya. Tetapi ada baiknya Anda tahu jawaban dari dua pertanyaan ini:

  1. Kalau suatu hari Anda minta akses domain dan server, apakah bisa diberikan?
  2. Apakah website Anda berada di server sendiri, atau bersama website orang lain?

Menanyakannya wajar. Developer yang menyusun asetnya dengan rapi akan bisa menjawabnya dengan mudah.

Dwindi Ramadhana

Belajar web secara otodidak, dari template Blogspot sampai plugin WordPress. Sejak 2021 membuat produk sendiri, dan sekarang membangun lintas stack. Yang saya tulis di sini adalah pelajaran dari proses itu.

Tentang saya →